Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal
DUNIA keimigrasian Indonesia kembali didera sorotan tajam menyusul mencuatnya serangkaian dugaan kasus pemerasan sistemik yang menyasar warg
Opini
JAKARTA - Penulis sejarah Usmaniyah, Ibrahim Peçevi, menulis tentang kedai-kedai kopi pada abad ke-17. "Kedai ini menjadi tempat pertemuan lingkaran pencari kesenangan dan pemalas, tapi juga kaum cerdik pandai dan sastrawan, dan mereka berkelompok sekitar 20 atau 30 orang. Beberapa membaca buku, ada yang sibuk dengan bermain catur; beberapa membawa puisi baru dan berbicara tentang sastra."
Namun perkembangan selanjutnya, tak ada lagi alasan menutup kedai kopi seperti halnya melarang peredaran tembakau; kopi menjadi komoditas yang diperhitungkan di pasar dunia, dan kedai kopi memberi masukan pajak yang tak sedikit.
Kopi mulai dikenal di benua Eropa pada abad ke-16, atau 150 tahun setelah kedai-kedai kopi menjamur di seluruh jazirah Arab dan wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintahan Islam. Kedai Kopi menjadi tempat tidak hanya untuk menikmati secangkir tetapi untuk bertukar pikiran, termasuk mengenai ekonomi dan bisnis.
Baca Juga:
Perusahaan asuransi Lloyd of London didirikan ratusan tahun yang lalu di salah satu dari 2.000 kedai London di London. Sastra, surat kabar, dan bahkan karya-karya komponis besar seperti Bach dan Beethoven juga pertama lahir di kedai-kedai kopi.
Di Amerika Serikat, kopi dikembangkan setelahnya. Setelah serangan atas kapal Inggris yang mengangkut teh pada 1773 dan melemparkan peti-peti teh ke laut, orang AS beralih menjadi peminum kopi. Sejarawa Mark Pendergrast, penulis Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World mengatakan bahwa salah seorang pendiri bangsa, John Adams, menulis surat kepada istrinya, Abigail, menyatakan cintanya pada teh tetapi ia harus belajar untuk minum kopi. "Karena minum teh telah menjadi tidak patriotik," katanya.
Baca Juga:
Ia menyebut kedai kopi menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah banyak bangsa, diakui atau tidak. "Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika direncanakan di kedai-kedai kopi," kata Pendergrast.
Hal ini diakui profesor pemasaran Merlyn Griffiths yang lama meneliti tentang kedai-kedai kopi modern. Tempat mengopi ini, katanya, memiliki tradisi panjang dalam masyarakat sebagai tempat di mana orang bisa bertemu dan mendiskusikan ide-ide. Pendek kata, kedai kopi menjadi semacam facebook di masa lalu. "Berbagai topik bahasan lahir di sini sepanjang waktu, selama berabad-abad," katanya. Bahkan, hingga saat ini.(ROL)
DUNIA keimigrasian Indonesia kembali didera sorotan tajam menyusul mencuatnya serangkaian dugaan kasus pemerasan sistemik yang menyasar warg
Opini
kabarmelayu.com,INHIL Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dr. H. Udin Syafriudin, M. Kes, menanggapi pemberitaan da
Sosial
kabarmelayu.com,PEKANBARU Upaya pemberantasan peredaran narkotika terus digencarkan oleh Satuan Reserse Narkoba Polresta Pekanbaru. Dala
Hukrim
kabarmelayu.com,INHIL Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indragiri Hilir bergerak cepat menangani
Lingkungan
kabarmelayu.com,PEKANBARU Sebagai bagian dari komitmen menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan dan memperkuat ketahanan iklim, Pemprov
Lingkungan
kabarmelayu.com,KAMPAR Kasus dugaan korupsi penyelewengan dana program digitalisasi desa yang melibatkan oknum kepala desa dan pihak ven
Peristiwa
kabarmelayu.com,PEKANBARU Upaya membangun ekosistem industri film nasional yang inklusif dan berdaya saing terus didorong melalui kolab
Parlemen
Kecelakaan Maut di Tol Permai, 5 Orang Tewas dan 5 Lainnya Lukaluka
Peristiwa
kabarmelayu.com,MEDAN Suara kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat asal Kepulauan Nias bergema di depan Markas Kepolisian Daerah Sum
Peristiwa
Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pekanbaru ke242 tahun ini, Pemko Pekanbaru akan menghadirkan dua legia
Peristiwa